These are some additional pantun collections I got from an article on the "Sarawak Malay Gendang" or the more commercial / traditional name, "bermukun". I wish to have a chance to actually learn this old art of entertainment but living in a city and a busy life schedule don't really help. For those who wants to know more about the "Sarawak Malay Gendang", go google it or let me know so that I can forward the article to you.
Meanwhile, enjoy the pantuns:
Apa dijeruk buah belimbing,
Kurang masin tambahlah garam,
apa dijenguk di luar dinding,
Kalau sudi masuklah ke dalam.
Satang kecil si Satang besar,
Sama timbal Pulo Sempadi,
Dari kecil sampai ke besar,
Belum pernah memungkir janji.
Sudah pasang air di laut,
Obor-obor tidak bertulang,
Sudah datang malaikat maut,
Dalam kubur rasa nak pulang.
Api apa di Tanjung Batu,
Api Pak Jenal tukang perahu,
Anak siapa sidak dua itu;
Rupa kenal nama tak tahu.
*this one my dad recited to me once
Sudah datang kapal sepeti,
Singgah di pasar membeli benang,
Sudah datang si buah hati,
Perut lapar menjadi kenyang.
Ke darat berlumba kuda,
Ke Satak Jambatan Gantung,
Bila kulihat wajah kekanda,
Hati beramuk dengan jantung.
Asam paya buah di hutan,
Dalam sepompong masak sebiji,
Sungguh kacak wajahmu tuan,
Dalam kampung payah dicari.
*this is the dance during the "mukun"
The pantuns above are called
"Asam Paya Rhyme" - one of the various rhythms for the "mukun" pantuns... another example given is the
"Labuan Rhyme" :
Labuan pulo di laut, sayang Labuan pulo di laut,
Khabarlah berita, khabar berita pula yang tumbuh,